Salah satu kelebihan sistem operasi
keluarga Unix-like, termasuk di dalamnya distribusi Linux dan BSD,
adalah adanya pilihan Desktop Environment (DE) yang ingin dipakai
sesuai selera. Yang membedakan antara DE satu dengan lainnya bisa
dilihat pada tampilan (user interface) dan pilihan aplikasi yang
disertakan. Beberapa DE bisa diinstal sekaligus dalam satu OS. Dan
saat login, user bisa memilih DE apa yang akan digunakan.
Berikut ini 7 pilihan Desktop Environment
yang bisa dipilih, dipakai, dan dimodifikasi secara bebas oleh
pengguna Linux.
GNOME
GNOME merupakan DE kekinian yang kaya
akan efek dan cocok dipakai untuk pengoperasian dengan layar sentuh.
Antar-mukanya disebut GNOME Shell. Tampilan defaultnya memiliki panel
di sebelah atas, dock dan launcher aplikasi di sisi kiri, dan di
sebelah kanan ada menu tersembunyi untuk berpindah antar virtual
windows. Aplikasi bawaannya antara lain Nautilus file manager, GNOME
Boxes untuk menjalankan mesin virtual, Totem media player, Evince
documeant reader, Gedit teks editor dan masih banyak lagi.
Meskipun tampilannya cantik, tapi DE ini
terkenal rakus dalam hal pemakaian RAM. Saat idle biasanya RAM yang
terpakai sekitar 1 Gb tergantung jumlah service yang diaktifkan saat
startup. Pemakaian nyaman DE ini membutuhkan CPU sekelas Core i3 dan
RAM di atas 2 Gb.
GNOME Shell menampilkan Dock (kiri) dan virtual windows (kanan)
KDE
Tampilan desktop KDE tak kalah cantiknya
dengan GNOME yang sama-sama kaya akan efek dan add-on. Tampilan
defauiltnya lebih mirip OS Windows dengan panel berada di bawah dan
menu launcher di pojok kiri panel. Kelebihannya, KDE memiliki lebih
banyak pengaturan yang memungkinkan user mengotak-atik semua bagian
di desktop. Aplikasi bawaannya antara lain ada Dolphin file manager,
Dragon Player untuk memutar video, pemutar musik Amarok, Ktorrent,
Okular document viewer, Kate text editor dan Kmail untuk email
client. Untuk pemakaian resource, KDE versi terbaru (Plasma 5) lebih
hemat dibanding GNOME. Saat idle, RAM yang terpakai hanya sekitar 500
Mb.
KDE Plasma 5 terpasang di distro Arch Linux
XFCE
XFCE merupakan DE yang cukup ringan
(pemakaian RAM saat idle hanya sekitar 300 Mb) dengan kustomisasi
yang tinggi alias bisa dimodifikasi semaumu. Tampilan defaultnya
lebih sederhana dibanding GNOME dan KDE, tapi setelah di-custom
sendiri, pesonanya bisa mengalahkan DE yg lain. Menu di XFCE bisa
dibuka lewat Brisk Menu yang ada di panel atau dengan cara klik-kanan
pada desktop. Aplikasi yang disertakan termasuk Thunar file manager,
Mousepad text editor, xterm terminal emulator, xfburn untuk membakar
DVD/Blueray, dll. Jika komputermu hanya dibekali RAM 1 Gb , XFCE
adalah pilihan DE yang paling cocok.
DE Xfce menampilkan file manajer Thunar dan pemutar musik Audacious
LXDE
LXDE, singkatan dari Light X11
Desktop Environment, pertama kali dirilis pada 2006. DE
ini bisa jadi solusi untuk PC tua yang hanya dibekali RAM 500Mb.
Tampilannya memang tidak se-keren DE-DE yang dibahas sebelumnya, tapi
kelebihannya LXDE hanya memakan RAM sekitar 150 Mb pada saat idle.
Aplikasi bawaaan LXDE termasuk PCManFm (file manager), Leafpad text
editor, LXtask (task manager), GpicView (penampil foto), Lxterminal,
dan LXMusic. Ke depannya, LXDE akan mengimplementasikan toolkit Qt di
semua komponennya dan berubah nama menjadi LxQt.
LXDE terpasang di distro Linux Mint
MATE
MATE merupakan pengembangan lanjutan dari
GNOME versi 2 yang discontinued (pengembangannya tidak
dilanjutkan oleh developer) pada tahun 2011 lalu. Sebagai catatan,
GNOME yang sekarang adalah versi 3.xx yang memiliki antar-muka baru
bernama GNOME Shell.
Tampilan MATE tidak berbeda jauh dari
GNOME versi lama dengan panel berisi launcher aplikasi, task bar, dan
indicator applet, serta desktop yang bisa diisi shortcut aplikasi.
Aplikasi bawaannya ada Caja file manager, Pluma text editor, Atril
document viewer, Engrampa archive manager, dan MATE-terminal.
Pemakaian RAM saat idle sekitar 500 Mb.
Tampilan standar MATE Desktop
Cinnamon
Cinnamon merupakan modifikasi dari GNOME
3. Berbeda jauh dari antar-muka GNOME Shell, tampilan DE Cinnamon
lebih mirip MATE Desktop dengan penambahan efek yang lebih elegan.
Pemakaian RAM saat idle hampir sama dengan GNOME (sekitar 900 Mb)
tetapi jauh terasa lebih responsif.
DE Cinnamon terpasang di distro Debian
Budgie
Seperti halnya DE Cinnamon, Budgie
Desktop juga dikembangkan dari GNOME 3, dengan tampilan yang lebih
simpel dan pemakaian RAM yang sedikit lebih hemat, sekitar 700 Mb
saat idle. Budgie Desktop memiliki menu Setting yang lebih mudah
dipakai. Menu Setting ini bisa diakses dengan menggeser kursor ke sebelah
kanan desktop.
Budgie Desktop menampilkan menu launcher (kiri) dan setting (kanan)
Setiap DE memiliki kelebihan dan
kekurangannya masing-masing. Silakan dipilih sesuai selera,
kebutuhan, dan kemampuan hardware. Selamat memilih.







No comments:
Post a Comment