Linux sejatinya adalah nama sebuah kernel yang menjadi ‘jantung’ dari banyak sistem operasi yang dipakai untuk menjalankan komputer desktop, server, smart phone, hingga perkakas IoT, seperti smart TV, game console, kulkas, hingga mobil canggih. Linux tidak tercipta begitu saja. Berbagai macam tahapan dan halangan harus ditempuh dengan keras untuk mewujudkan sistem operasi yang terbuka dan bebas untuk dikembangkan oleh publik. Di kala itu teknologi masih terbatas. Penemuan teknologi komputer juga tergolong baru. Berbagai macam konsep harus dicoba untuk mewujudkan sistem operasi yang ideal seperti yang ada saat ini.
Sejarah GNU, Free & Open Source Software Foundation
Sejarah linux dimulai setelah kemunculan sistem operasi UNIX yang dikenalkan ke publik sekitar tahun 1970-an yang dikembangkan dan dirilis oleh AT&T Bell Laboratories. Pengembangan sistem operasi yang mirip UNIX (Unix-like operating system) menjadi populer dan dikembangkan oleh banyak pihak.
Pada tahun 1977, Computer Systems Research Group (CSRG) dari UC Berkeley mengembangkan sistem operasi Berkeley Software Distribution (BSD) dan menggunakan kode UNIX edisi 6 yang dimiliki AT&T. AT&T pun tidak terima karena kodenya digunakan untuk membuat BSD dan mengajukan gugatan hukum. Setelah adanya gugatan hukum tersebut pengembangan sistem operasi yang mengambil kode sumber dari BSD pun menjadi tersendat.
Pada tahun 1983, Richard Stallman, seorang programmer sekaligus hacker di Massachusetts Institute of Technology (MIT), membuat proyek GNU dengan target membuat sistem operasi yang bebas, mirip dan kompatibel dengan UNIX. GNU merupakan kependekan dari “GNU’s Not Unix” dan bukanlah suatu perusahaan komersil melainkan wadah suatu komunitas yang menjunjung tinggi free and open source software (FOSS). Free disini tidak diartikan gratis namun diartikan sebagai “kebebasan” karena aplikasi yang berlisensi GPL (GNU General Public License) memberikan 3 kebebasan untuk penggunanya yaitu bebas untuk menggunakan, mengubah untuk pengembangan, dan mendistribusikan hasilnya ke publik. Kebebasan seperti itu tidak diberikan proprietary software (software komersil).
Proyek GNU dimulai pada tahun 1984 dengan pembuatan software, compiler, editor, text formatter, GUI, library, module dan masih banyak lagi. Dalam proses pembuatannya, Stallman melibatkan banyak personal yang berasal dari komunitas GNU itu sendiri. Semua komponen didesain agar kompatibel dengan sistem operasi UNIX yang sudah ada. Pilihan ini didasarkan bahwa UNIX telah terbukti memiliki desain yang unggul dan portabel (bisa disesuaikan untuk bisa dijalankan di platform prosesor yang berbeda).
Linus Torvalds dan Kernel-nya
Pada tahun 1990 GNU telah menyelesaikan semua komponen untuk membuat suatu sistem operasi dari mulai compiler, libraries, aplikasi, user interface dan lainnya. Hanya satu komponen yang belum selesai, yaitu kernel, yang menjadi inti dari sebuah sistem operasi.
Pada tahun 1991, Linus Torvalds, seorang mahasiswa jurusan ilmu komputer dari Universitas Helsinki di Finlandia menulis kernel untuk dipakai di komputernya sendiri menggunakan bahasa C dan di-compile menggunakan GNU C Compiler. Kernel buatan Linus ini dibuat tanpa mengutip kode dari kernel UNIX. Kernel UNIX hanya dijadikan bahan inspirasi oleh Linus. Kernel buatan sendiri ini lalu disebarkan untuk kalangan luas dan semua orang bisa menggunakan dan mengembangkannya secara bebas. Kernel inilah yang menjadi cikal bakal kernel Linux yang kita pakai hingga saat ini sebagai hasil pengembangan dari komunitas open source dari waktu ke waktu.
Nama Linux
Linus Torvalds ingin menyebut temuannya dengan nama Freax yang merupakan gabungan dari free freak dan X yang mengacu pada UNIX. Saat mengerjakan kernel dia menyimpan file dengan nama Freax hingga hampir setengah tahun. Sebenarnya telah terbersit di pikiran Linus untuk menamai karyanya dengan nama Linux, namun dia menganggap terlalu egois jika dinamai dengan kata yang mengandung namanya sendiri.
Untuk memfasilitasi proses pengembangan kernel maka file diupload ke FTP server (ftp.funet.fi) pada bulan september 1991. Ari Lemmke dari Universitas Helsinki yang saat itu menjadi relawan administrator FTP berpikir bahwa nama Freax untuk sebuah kernel tidaklah bagus untuk didengar. Lalu tanpa sepengetahuan Linus dia mengubah nama kernel tersebut dengan nama Linux. Namun Linus tidak keberatan dengan nama tersebut dan akhirnya ikut menggunakannya juga.
Linux dibawah lisensi GNU GPL
Saat awal dipublikasikan, kernel milik Linus masih menggunakan lisensinya sendiri yang salah satu poinnya berisi larangan tidak boleh digunakan untuk tujuan komersil, karena pembuatan kernel tersebut didedikasikan untuk komunitas open source.
Pada peluncuran linux versi pertama, Linus hanya menuliskan dalam
dokumentasinya bahwa untuk bisa menggunakan Linux seutuhnya memerlukan
software yang disediakan oleh GNU. Software yang digunakan untuk membuat linux semuanya menggunakan aplikasi yang berlisensi GNU GPL (lisensi untuk software bebas/free) dan agar linux dapat digunakan sebagai sistem operasi yang utuh linux memerlukan komponen seperti shell, compilers, library, yang semuanya dibawah lisensi GNU GPL.
Akhirnya pada bulan Desember 1992 linux kembali dirilis ke publik di bawah lisensi GNU GPL sekaligus menyertakan tool dan library dari GNU, sehingga linux disebut juga dengan nama GNU/Linux.
Pendiri GNU Project, Richard Stallman (kiri) dan Kreator kernel Linux, Linus Torvalds
TUX: Maskot Linux
Pada tahun 1996 Linus Torvalds mengumumkan maskot Linux secara resmi yaitu sebuah pinguin dengan nama Tux. Linus menjelaskan dia memilih pinguin karena dia pernah mengalami kenangan yang buruk dengan hewan tersebut. Saat berkunjung ke sebuah kebun binatang di Australia, dia pernah digigit oleh seekor pinguin kecil hingga membuatnya mengalami demam.
Linux mengadakan kontes mendesain logo linux dan dimenangkan oleh Larry Ewing dengan gambar pinguin sedang duduk bernama Tux. Tux mengacu pada Torvalds’ UniX dan berarti juga tuxedo,semacam jas hitam yang warnanya mirip dengan si pinguin tersebut.
Tux si penguin, maskot Linux
Komunitas dan Distro Linux
Kontribusi pengembangan linux terbesar berasal dari komunitas pengguna linux itu sendiri yang terdiri dari ribuan programmer yang tersebar di seluruh penjuru dunia dan terhubung melalui Internet. Mereka menggunakan linux dan memberi saran untuk membuat linux jauh lebih baik setiap harinya kepada developer. Beberapa perusahaan yang memberikan jasa instalasi linux juga ikut andil dalam pengembangan linux, bukan hanya menyempurnakan kernel namun juga membuat aplikasi pendukung yang disertakan dalam distrubusi linux.
Dalam perkembangan selanjutnya, muncul beberapa perusahaan dan komunitas terorganisir yang menciptakan proyek untuk mengembangkan linux dengan versi mereka sendiri. Hasil pengembangannya tetap didistribusikan secara bebas, karena semua linux berlisensi GPL. Untuk menghasilkan uang sebagai penutup biaya operasional perusahaan dan proyeknya, mereka menyediakan jasa konsultasi dan support teknis untuk pengguna linux berskala enterprise.
Linux yang dikembangkan oleh perusahaan dan komunitas yang berbeda-beda inilah yang disebut dengan distribusi (disingkat distro) Linux. Distro yang pertama kali muncul bernama Slackware dan Debian yang sama-sama dimulai pada tahun 1993, disusul oleh SUSE Linux (1994) dan Red Hat Linux (1995). Walau menggunakan basis kernel yang sama namun pilihan aplikasi dan utilitas yang disertakan oleh distro tersebut berbeda-beda. Perbedaan ini tidaklah signifikan, hanya sebagian command, manajemen paket aplikasi, dan hierarki file system yang berbeda dari distro satu dengan yang lain.

Peserta Root Linux Conference di Kiev, Ukraina, Maret 2017
Lini masa
Secara ringkas sejarah dan perkembangan linux bisa diringkas pada kronologi berikut ini :
1991: Linux kernel dipublikasikan untuk komunitas dengan tujuan untuk dikembangkan bersama pada tanggal 25 Agustus.
1992: Lisensi kernel Linux diubah menjadi GNU GPL dan untuk pertama kalinya linux menjadi sistem operasi yang utuh dan langsung bisa digunakan tanpa perlu menginstall aplikasi GNU pendukung secara terpisah.
1993: Lebih dari 100 developer ikut dalam proses pengembangan kernel linux. Dengan bantuan mereka kernel disesuaikan dengan environment GNU. Slackware menjadi distro tertua yang masih berdiri hingga saat ini, diikuti dengan Debian yang menjadi distro terbesar saar ini.
1994: Linus Torvalds memutuskan bahwa semua komponen dari kernel sudah benar-benar matang dan kemudian merilis Linux versi 1.0. Proyek XFree86 berkontribusi dalam pembuatan GUI Linux. Distro linux komersil pertama, SuSE, juga ikut merilis versi 1.0
1995: Linux disesuaikan agar bisa berjalan di platform prosesor baru, DEC Alpha dan Sun SPARC. Kedua processor tersebut merupakan processor paling modern dikala itu.
1996: Kernel linux versi 2.0 dirilis dengan fitur baru, dapat berjalan di berbagai macam platform prosesor menggunakan symmetric multiprocessing (SMP). Proyek graphical interface KDE dimulai.
1998: Banyak perusahaan besar seperti IBM, Compaq dan Oracle mengumunkan dukungan produknya untuk linux. Google search engine diluncurkan dan servernya memakai Linux.
1999: Sekelompok pengembang aplikasi bekerjasama dalam proyek graphical environment GNOME yang didesain untuk menggantikan KDE. Di tahun yang sama IBM juga mengumumkan proyek tambahan untuk mendukung linux dengan mendirikan Linux Technology Center (LTC) dan merekrut 300 lebih developer kernel Linux.
2000: Dell mengumumkan bahwa saat itu perusahaannya menjadi provider nomer 2 di dunia yang menggunakan linux dalam semua produknya.
2002: Distro Caldera, SuSE, Turbolinux dan Conectiva sepakat untuk bekerjasama mengembangkan distro linux untuk server. Sun Microsysrems merilis aplikasi perkantoran 'bebas' OpenOffice versi 1.0.
2003: Linus Torvalds menyatakan akan bekerja full-time di Linux Foundation dan ikut mengembangkan kernel Linux versi berikutnya.
2004: Tim proyek Xfree86 terpecah dan bergabung dengan proyek Standar X yang nantinya menjadi X.Org Foundation, yang berperan dalam mengembangkan X server untuk Linux. Di tahun yang sama, perusahaan Canonical merilis distro Ubuntu versi pertama.
2005: Komunitas Novell memulai proyek openSUSE yang merupakan distribusi versi 'bebas' dari SuSE. Begitu juga dengan proyek Openoffice.org yang meluncurkan OpenOffice versi 2.0 dengan dukungan dokumen format standar OASIS, open document. Di tahun yang sama, Google mengakuisisi Android Inc. dan mulai mengembangkan sistem operasi untuk mobile phone yang berbasis kernel Linux.
2006: Perusahaan Oracle merilis distro linuxnya sendiri yaitu Red Hat Enterprise Linux (RHEL), sedangkan Novell dan Microsoft bekerjasama dalam perlindungan penggunaan hak patent.
2007: Dell memulai memasarkan laptop dengan bawaan sistem operasi distro Ubuntu.
2009: Perkembangan pasar RedHat setara dengan Sun Microsystems, yang diartikan sebagai momen simbolis bagi “ekonomi berbasis Linux”.
2011: Linux kernel versi 3.0 dirilis.
2012: Pasar Linux melebihi pasar Unix pada jenis pasar kelas server.
2013: Smart phone yang beredar dipasaran 75% menggunakan sistem operasi berbasis linux (Android).
2014: Distro Ubuntu mengklaim telah memiliki 22 juta pengguna.
2015: Kernel linux versi 4.0 dirilis ke publik, terdiri dari 15 juta baris kode. Linux versi 1.0 panjangnya hanya 150-ribuan baris.
Artikel ini diambil dari https://www.belajarlinux.org dengan beberapa penyesuaian.